RAGAM DEMO MASAK
Senin, akhir Juli 2006
Demo masak ayam goreng ala Ny. Suharti? Waduh kebetulan. Segera saja kubereskan segala ke-amburadulan rumah agar bisa on time ikutan demo masak. Lumayan, hari gini diajari masak resep kondang gratis!! Aku datang ke rumah bu Dita dengan buah hatiku. Disana sudah ngumpul 4 ibu-ibu lainnya. Tapi juru demonya belum datang.
“Aduh baru lagi nih sarung bantalnya?” Komentar Bu Anung.
“Iya, baru bikin kemarin”. Bu Dita menimpali.
“Masak sih, bahannya kok sama dengan punyaku lebaran tahun lalu ya.” Timpal Bu Joko
“ Beda lagi, ini kain kan motif baru. Susah lo nyarinya. Sela Bu Dita nggak mau kalah.
” Aduh, jangan naik-naik nak nanti jatuh! Seruku pada si kecil sekalian buat mengalihkan perhatian ibu-ibu. ”Duduk manis yuk! nanti ibu buatkan ayam goreng yang enak janjiku padanya. ( Mana ngerti dia, umur juga baru 18 bulan he..he.., tahunya cuman rasa enak dan tidak saja).
” Ya gitu Ana, namanya juga anak-anak. Makanya saya dulu satu anak di jaga satu pembantu, habis nggak cukup kalo satu orang”. Seloroh Bu Joko.
Aku pun hanya tersenyum.
”Emangnya kenapa Ana nggak pakai pembantu? Suaminya kan gajinya gede, keluar sedikit uang dong, ngapain badan di capek-capekin?”
Belum sempat aku menjawab, bu Dita menimpalinya.
” Dia nunggu pembantunya yang lagi pulang kampung, tapi nggak balik-balik.” ”Emang dia tinggal di mana sih bu Dita?” Tiba-tiba ibu...? (Aku nggak tahu namanya karena belum kenal). Yang sedari tadi diam jaga image menunjuk ke aku ( ditunjuk nih ye...). Bu Dita pun menjawab kalau aku tinggal di rumah kontrakan yang ada pohon rambutannya. Ibu itu mengangguk tanpa ekspresi. Ya, maklumlah jika tidak berekspresi, kontrakanku nggak bagus-bagus amat kok, bangunan lawas. Jadi nggak menarik buat mereka yang melewatinya. Kasihan deh gua!!!
Jam 11.00 si juru demo baru datang disambut omelan ibu-ibu. Tapi dia cuek aja, seakan-akan nggak bersalah. Segera saja ia menata perangkat masak, sementara bahannya disediakan bu Dita. Dengan cakap sang pendemo mengajari langkah-langkah masaknya.
“Baik ibu-ibu kita mulai dengan meracik bumbu. Bawang putih secukupnya, jahe, kunyit, merica secukupnya. Daun salam, serai juga secukupnya.”
” Loh! Semua secukupnya, tingkat kecukupanku dengan ibu-ibu yang lain jelas beda dong mbak?” tanyaku.
“Kalau begitu dikira-kira saja sesuai dengan selera masing-masing”.
” Walah, serba gak jelas gitu, tepatnya seberapa mbak, kalau kebanyakan jahenya kan pedas ?”
Iya nih, yang tepat dong biar rasanya mantap”. Bla..bla...Celoteh ibu-ibu bersahutan. Aku konsentrasi ke polah anakku yang ngider terus sembari berfikir, namanya juga demo masak gratis mana bisa seperfect kalau kita bayar Rp 100.000 per satu kali pertemuan.
Si juru demo santai saja, aku salut dengan ketenangannya diberondong ibu-ibu. Padahal kalau aku lagi masak trus si kecil merengek, amarah terkadang tidak tertahan.
“ Nah, sekarang kita goreng adonannya. Lihat tehniknya ya ibu-ibu, selain tehnik menggorengnya harus tepat, panci ini juga bisa membuat gorengan menjadi bagus, nggak usak dibolak balik, kita cemplungin adonan lagi, nanti matengnya tetap bareng, nggak gosong dan...bla..bla...Akhirnya promosi berjalan sambil menggoreng. Aku jadi terbius akan kehebatan panci sakti itu, bisa buat bikin nasi liwet, pepes tanpa daun, mengukus, bikin sayur dan lain lain. Wah ini cocok dengan kebutuhanku, yang biasa masak sambil momong anak. Ibu-ibu yang lain juga kelihatan terpesona, meski ada yang mengaku sudah punya. Padahal si pendemo bilang ini adalah produk baru. He.he..
Demo berlanjut dengan pembuatan martabak manis. Lagi-lagi kami dibius oleh kehebatan sarana yang bernama pan cake. Akhirnya demo selesai.
”Gimana ibu-ibu? Jadi ambil barang semua? Boleh cash bisa juga di angsur. Murah bu, kalau beli di toko lebih mahal.”
“ Ehm...aku mau ambil angsuran mbak, harganya diturunin dong”. Masak 60 ribu perbulan, 50 dong!” Kata ibu yang belum aku kenal itu.
Bu Joko nggak mau ketinggalan. “Kayaknya sih aku juga, cuma presto di rumah nganggur lagi dong. Lagian ini kan tanggal tua.”
Aku diam saja, menunggu ibu-ibu selesai mengeluarkan alibinya untuk menolak. Bu Dita memutuskan tidak beli karena sudah jarang masak. Bu Anung juga menolak dengan alasan yang masak pembantunya, sayang nanti kalau pembantunya sembarangan menggunakan dan mencucinya.
”Aku mau ambil panci sama pan cakenya mbak.” Tolong catat, kataku. Ibu-ibu pada bengong ngeliat aku, apalagi ibu yang belum aku kenal dan enggan menyebut namaku itu. Aku cuek saja, ku beli panci + pan cake itu karena sejak menikah hingga kini belum pernah beli panci yang mahal. Alasan lainnya ku beli alat itu untuk suami dan anakku (ceile..) agar bisa menikmati masakan lezatku. Sayang uang di dompetku buat DP kurang, ku coba pinjam Bu Dita (dia juga masih punya hutang sama aku lo), ternyata gak punya. Tanpa sungkan ibu-ibu yang lain juga mengaku nggak punya uang, padahal aku gak ada niat mau pinjam mereka. Keinginan beli peralatan itu pun tertunda selama 3 jam, baru terwujud setelah ambil uang di ATM. Walah demo-demo, maunya belajar masak gratis malah ngeluarin duit. Tragis
Mohon maaf jika Anda kurang nyaman membaca tulisan ini, karena terdapat kesalahan tanda baca di sana sini. Maklum, masih belum sempat dikoreksi ulang alias karya masih asli.
Demo masak ayam goreng ala Ny. Suharti? Waduh kebetulan. Segera saja kubereskan segala ke-amburadulan rumah agar bisa on time ikutan demo masak. Lumayan, hari gini diajari masak resep kondang gratis!! Aku datang ke rumah bu Dita dengan buah hatiku. Disana sudah ngumpul 4 ibu-ibu lainnya. Tapi juru demonya belum datang.
“Aduh baru lagi nih sarung bantalnya?” Komentar Bu Anung.
“Iya, baru bikin kemarin”. Bu Dita menimpali.
“Masak sih, bahannya kok sama dengan punyaku lebaran tahun lalu ya.” Timpal Bu Joko
“ Beda lagi, ini kain kan motif baru. Susah lo nyarinya. Sela Bu Dita nggak mau kalah.
” Aduh, jangan naik-naik nak nanti jatuh! Seruku pada si kecil sekalian buat mengalihkan perhatian ibu-ibu. ”Duduk manis yuk! nanti ibu buatkan ayam goreng yang enak janjiku padanya. ( Mana ngerti dia, umur juga baru 18 bulan he..he.., tahunya cuman rasa enak dan tidak saja).
” Ya gitu Ana, namanya juga anak-anak. Makanya saya dulu satu anak di jaga satu pembantu, habis nggak cukup kalo satu orang”. Seloroh Bu Joko.
Aku pun hanya tersenyum.
”Emangnya kenapa Ana nggak pakai pembantu? Suaminya kan gajinya gede, keluar sedikit uang dong, ngapain badan di capek-capekin?”
Belum sempat aku menjawab, bu Dita menimpalinya.
” Dia nunggu pembantunya yang lagi pulang kampung, tapi nggak balik-balik.” ”Emang dia tinggal di mana sih bu Dita?” Tiba-tiba ibu...? (Aku nggak tahu namanya karena belum kenal). Yang sedari tadi diam jaga image menunjuk ke aku ( ditunjuk nih ye...). Bu Dita pun menjawab kalau aku tinggal di rumah kontrakan yang ada pohon rambutannya. Ibu itu mengangguk tanpa ekspresi. Ya, maklumlah jika tidak berekspresi, kontrakanku nggak bagus-bagus amat kok, bangunan lawas. Jadi nggak menarik buat mereka yang melewatinya. Kasihan deh gua!!!
Jam 11.00 si juru demo baru datang disambut omelan ibu-ibu. Tapi dia cuek aja, seakan-akan nggak bersalah. Segera saja ia menata perangkat masak, sementara bahannya disediakan bu Dita. Dengan cakap sang pendemo mengajari langkah-langkah masaknya.
“Baik ibu-ibu kita mulai dengan meracik bumbu. Bawang putih secukupnya, jahe, kunyit, merica secukupnya. Daun salam, serai juga secukupnya.”
” Loh! Semua secukupnya, tingkat kecukupanku dengan ibu-ibu yang lain jelas beda dong mbak?” tanyaku.
“Kalau begitu dikira-kira saja sesuai dengan selera masing-masing”.
” Walah, serba gak jelas gitu, tepatnya seberapa mbak, kalau kebanyakan jahenya kan pedas ?”
Iya nih, yang tepat dong biar rasanya mantap”. Bla..bla...Celoteh ibu-ibu bersahutan. Aku konsentrasi ke polah anakku yang ngider terus sembari berfikir, namanya juga demo masak gratis mana bisa seperfect kalau kita bayar Rp 100.000 per satu kali pertemuan.
Si juru demo santai saja, aku salut dengan ketenangannya diberondong ibu-ibu. Padahal kalau aku lagi masak trus si kecil merengek, amarah terkadang tidak tertahan.
“ Nah, sekarang kita goreng adonannya. Lihat tehniknya ya ibu-ibu, selain tehnik menggorengnya harus tepat, panci ini juga bisa membuat gorengan menjadi bagus, nggak usak dibolak balik, kita cemplungin adonan lagi, nanti matengnya tetap bareng, nggak gosong dan...bla..bla...Akhirnya promosi berjalan sambil menggoreng. Aku jadi terbius akan kehebatan panci sakti itu, bisa buat bikin nasi liwet, pepes tanpa daun, mengukus, bikin sayur dan lain lain. Wah ini cocok dengan kebutuhanku, yang biasa masak sambil momong anak. Ibu-ibu yang lain juga kelihatan terpesona, meski ada yang mengaku sudah punya. Padahal si pendemo bilang ini adalah produk baru. He.he..
Demo berlanjut dengan pembuatan martabak manis. Lagi-lagi kami dibius oleh kehebatan sarana yang bernama pan cake. Akhirnya demo selesai.
”Gimana ibu-ibu? Jadi ambil barang semua? Boleh cash bisa juga di angsur. Murah bu, kalau beli di toko lebih mahal.”
“ Ehm...aku mau ambil angsuran mbak, harganya diturunin dong”. Masak 60 ribu perbulan, 50 dong!” Kata ibu yang belum aku kenal itu.
Bu Joko nggak mau ketinggalan. “Kayaknya sih aku juga, cuma presto di rumah nganggur lagi dong. Lagian ini kan tanggal tua.”
Aku diam saja, menunggu ibu-ibu selesai mengeluarkan alibinya untuk menolak. Bu Dita memutuskan tidak beli karena sudah jarang masak. Bu Anung juga menolak dengan alasan yang masak pembantunya, sayang nanti kalau pembantunya sembarangan menggunakan dan mencucinya.
”Aku mau ambil panci sama pan cakenya mbak.” Tolong catat, kataku. Ibu-ibu pada bengong ngeliat aku, apalagi ibu yang belum aku kenal dan enggan menyebut namaku itu. Aku cuek saja, ku beli panci + pan cake itu karena sejak menikah hingga kini belum pernah beli panci yang mahal. Alasan lainnya ku beli alat itu untuk suami dan anakku (ceile..) agar bisa menikmati masakan lezatku. Sayang uang di dompetku buat DP kurang, ku coba pinjam Bu Dita (dia juga masih punya hutang sama aku lo), ternyata gak punya. Tanpa sungkan ibu-ibu yang lain juga mengaku nggak punya uang, padahal aku gak ada niat mau pinjam mereka. Keinginan beli peralatan itu pun tertunda selama 3 jam, baru terwujud setelah ambil uang di ATM. Walah demo-demo, maunya belajar masak gratis malah ngeluarin duit. Tragis
Mohon maaf jika Anda kurang nyaman membaca tulisan ini, karena terdapat kesalahan tanda baca di sana sini. Maklum, masih belum sempat dikoreksi ulang alias karya masih asli.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home