KOSONG
Dia enggan dikatakan sebagai korban kejamnya ibukota. Dia lebih suka dikatakan sebagai korban bobroknya sebuah sistem. Entah Mengapa? Dia sendiri yang tahu jawabannya. Jika yang menjawab aku, pastilah bersifat subyektif, atau malah jadi opini. Ini sama artinya dengan sok tahu! Yang aku pahami, dia sudah puluhan tahun duduk menyepi dipinggiran jalanan padat. Dia lebih suka terdiam. Karena dia sadar, suaranya pasti kalah merdu dibanding suara mobil-mobil Jepang yang dari kehari makin bertambah jumlahnya. Dia juga tak merokok, karena paru-parunya lebih puas menghirup asap knalpot (knalpot kan lebih gede dibanding rokok)he..he
Dia lebih suka diam karena ...
Banyak ngomong bikin cepat haus. Padahal harga minum tak cukup 1000 perak. Lagipula suaranya disimpan untuk menservis penumpang. Nggak percaya? Bicaranya mendadak banyak saat tawar-menawar ongkos. Begitu kembali dari mengantar penumpang, diam lagi yang dilakoni. Sebuah kata lirh sempat diucapkannnya Yah,,sama dengan kemarin-kemarin, hanya cukup untuk makan hari ini!!!
Akupun terpaku!
Andai beras tak mahal!
Andai sistem transportasi berimbang!
Andai...Andai...Andai...
Akupun akhirnya ikut terdiam, terbenam dalam fikiranku sendiri. Berfikir tentang sepatunya, melihat penutup kepalanya, mengamati sepeda kebanggaannya, dan diamku kusalurkan dengan mengambil gambarnya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home